Archive by Author | asep sudrajat

tugas mengggambar animasi cleanup dan sisip

Tugas Menggambar Clenup untuk Animasi
Kelas XI MM 1, XI MM 2, dan XI MM 3
Senin, 15 Agustus 2011

PETUNJUK UMUM :
• Buatlah kelompok
• Satu kelompok terdiri dari 4 orang
• Bacalah tugas di bawah ini dengan seksama
• Kerjakan tugas sesuai instruksi

PETUNBJUK KHUSUS :
1. Bacalah synopsis di bawah ini dengan seksama
Sinopsis :

Di kelas XI MM 5 terdapat dua orang sahabat , Yanto dan Yanti, mereka hidup satu kampong Ciparenyon , setiap hari mereka berangkat ke sekolah bersama-sama. Yanto bercita-cita menjadi seorang pengusaha yang sukses di bidang periklanan, dan Yanti bercita-cita menjadi seorang programmer di bidang computer.
Setiap hari mereka belajar dengan tekun untuk mencapai cita-cita mereka, mereka pun kompak saling membantu satu sama lain dalam mengatasai kesulitan, terutama yang berkaitan dengan pelajaran.
7 tahun kemudian mereka menjadi orang yang sukses, Yanto berhasil mengapai cita-cita menjadi manajer perusahaan “Multimedia Creative” di Garut, dan Yanti menjadi seorang programmer yang handal yang bekerkja di “Microsoft Coorporation Indomesia” di Jakarta. Akhir cerita yang indah dari indahnya sebuah arti persahabatan.
2. Tugas.
• Tentukan gambar kunci dari synopsis cerita di atas (diskusikan cdalam kelompok)
• Buatlah minimal empat buah gambar kunci dari synopsis cerita di atas pada empat lembar kertas HVS ! (Kerjakan secara perorangan)

3. Kumpulkan hasil karya di meja Pak Asep Sudrajat

DATA DIRIKU

Nama : Asep Sudrajat, S.Pd.M.M.Pd
Jenis kelamin : laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Jl. Gunung Payung No 223 RT. 05 RW 02Kel. Ciwalen Garut
Pekerjaan : Guru SMK Negeri 2 Garut
Profesi di luar mengajar : Pelukis, Pimpinan /Pengajar Sanggar Lukis Permata

 

Pengalaman mengajar  :

Guru TK : TK Insan Mandiri Garut,TK Aisyah II Garut
Guru SD : SDIT Atikah Musaddad
Guru SMP : SMPN 3 Tarogong Kidul ,SMP Muhammadiyah Garut, Ekskul Lukis SMPN 2 Garut
Guru SMA/SMK / Dosen : SMK Negeri 2 Garut,SMK Salman Garut,/ STAIDA Muhammadiyah


 

Aktivitas Organisasi Kependidikan:

  • PGRI Ranting SMP Negeri 3 Tarogong Garut  (Wakil Ketua berhenti tahun 2010ketua)
  • MGMP seni Budaya SMP se Kabupaten Garut (Ketua berhenti tahun 2010)
  • MGMP Teknologi Informasi dan Komunikasi  SMP se Kabupaten Garut (sekertrais, berhenti tahun 2010)
  • Tim Pengembang Kurikulum SMP se Kabupaten Garut (Mata Pelajaran Seni Budaya, berhenti tahun 2010)
  • MGMP Seni Budaya SMK se provinsi Jawa Barat ( Sekertaris, mulai 2010 sampai sekarang)
  • Ketua Majlis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Cabang Muhamamdiyah Garut Kota Periode 2010-2014

Aktivitas Organisasi non Kependidikan:

  • Pengurus Forum Komunikasi perupa Garut
  • Pendiri / ketua / Pengajar Sanggar Lukis Permata
  • Aktif menjadi juri berbagai lomba Seni Lukis di Kabupaten Garut dan Bandung
  • Aktif mengikuti Pameran Seni Lukis di Kabupaten Garut dan Bandung

Seni Kriya

Pengertian Seni Kriya

73 Votes
I Wayan Seriyoga Parta

Seni kriya adalah cabang seni yang menekankan pada ketrampilan tangan yang tinggi dalam proses pengerjaannya. Seni kriya berasal dari kata “Kr” (bhs Sanskerta) yang berarti ‘mengerjakan’, dari akar kata tersebut kemudian menjadi karya, kriya dan kerja. Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau obyek yang bernilai seni” (Prof. Dr. Timbul Haryono: 2002).

Dalam pergulatan mengenai asal muasal kriya Prof. Dr. Seodarso Sp dengan mengutif dari kamus, mengungkapkan “perkataan kriya memang belum lama dipakai dalam bahasa Indonesia; perkataan kriya  itu berasal dari bahasa Sansekerta yang dalam kamus Wojowasito diberi arti; pekerjaan; perbuatan, dan dari kamus Winter diartikan sebagai  ‘demel’ atau membuat”. (Prof. Dr. Soedarso Sp, dalam Asmudjo J. Irianto, 2000)

Sementara menurut Prof. Dr. I Made Bandem kata “kriya” dalam bahasa indonesia berarti pekerjaan (ketrampilan tangan). Di dalam bahasa Inggris disebut craft berarti energi atau kekuatan. Pada kenyataannya bahwa seni kriya sering dimaksudkan sebagai karya yang dihasilkan karena skill atau ketrampilan seseorang”. (Prof. Dr. I Made Bandem, 2002)

Dari tiga uraian ini dapat ditarik satu kata kunci yang dapat menjelaskan pengertian kriya adalah; kerja, pekerjaan, perbuatan, yang dalam hal ini bisa diartikan sebagai penciptaan karya seni yang didukung oleh ketrampilan (skill) yang tinggi.

Seperti telah disinggung diawal bahwa istilah kriya digali khasanah budaya Indonesia tepatnya dari budaya Jawa tinggi (budaya yang berkembang di dalam lingkup istana pada sistem kerajaan). Denis Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: Silang budaya, menyatakan ‘istilah kriya yang diambil dari kryan menunjukkan pada hierarki strata pada masa kerajaan Majapahit, sebagai berikut; “Pertama-tama terdapat para mantri, atau pejabat tinggi serta para arya atau kaum bangsawan, lalu para kryan yang berstatus kesatriya dan para wali atau perwira, yang tampaknya juga merupakan semacam golongan bangsawan rendah’. (Denis Lombard dalam Prof. SP. Gustami, 2002)

Menyimak pendapat Prof. SP. Gustami yang menguraikan bahwa; seni kriya merupakan warisan seni budaya yang adi luhung, yang pada zaman kerajaan di Jawa mendapat tempat lebih tinggi dari kerajinan. Seni kriya dikonsumsi oleh kalangan bangsawan dan masyarakat elit sedangkan kerajinan didukung oleh masyarakat umum atau kawula alit, yakni masyarakat yang hidup di luar tembok keraton. Seni kriya dipandang sebagai seni yang unik dan berkualitas tinggi karena didukung oleh craftmanship yang tinggi, sedangkan kerajinan dipandang kasar dan terkesan tidak tuntas. Bedakan pembuatan keris dengan pisau baik proses, bahan, atau kemampuan pembuatnya.

Lebih lanjut Prof. SP. Gustami menjelaskan perbedaan antara kriya dan kerajinan dapat disimak pada keprofesiannya, kriya dimasa lalu yang berada dalam lingkungan istana untuk pembuatnya diberikan gelar Empu. Dalam perwujudannya sangat mementingkan nilai estetika dan kualitas skill. Sementara kerajinan yang tumbuh di luar lingkungan istana, si-pembuatnya disebut dengan Pandhe. Perwujudan benda-benda kerajinan hanya mengutamakan fungsi dan kegunaan yang diperuntukkan untuk mendukung kebutuhan praktis bagi masyarakat (rakyat). (Prof. SP. Gustami, 2002) Pengulangan dan minimnya pemikiran seni ataupun estetika adalah satu ciri penanda benda kerajinan.

Pemisahan yang berdasarkan strata atau kedudukan tersebut mencerminkan posisi dan eksistensi seni kriya di masa lalu. Seni kriya bukanlah karya yang dibuat dengan  intensitas rajin semata, di dalamnya terkandung nilai keindahan (estetika) dan juga kualitas skill yang tinggi. Sedangkan kerajinan tumbuh atas desakan kebutuhan praktis dengan mempergunakan bahan yang tersedia dan berdasarkan pengalaman kerja yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari.

Kembali  ditegaskan oleh Prof. SP. Gustami: seni kriya adalah karya seni yang unik dan punya karakteristik di dalamnya terkandung muatan-muatan nilai estetik, simbolik, filosofis dan sekaligus fungsional oleh karena itu dalam perwujudannya didukung  craftmenship yang tinggi, akibatnya kehadiran seni kriya termasuk dalam kelompok seni-seni adiluhung (Prof. SP.Gustami, 1992:71).

Uraian tadi menyiratkan bahwa kriya merupakan cabang seni yang memiliki muatan estetik, simbolik dan filosofis sehingga menghadirkan karya-karya yang adiluhung dan munomental sepanjang jaman. Praktek kriya pada masa lalu dibedakan dari kerajinan, kriya berada dalam lingkup istana (kerajaan) pembuatnya diberi gelar Empu. Sedangkan kerajinan yang berakar dari kata “rajin” berada di luar lingkungan istana, dilakoni oleh rakyat jelata dan pembuatnya disebut pengerajin atau pandhe.

Dari beberapa pendapat yang telah dibahas sebelumnya menjelaskan bahwa wujud awal seni kriya lebih ditujukan sebagai seni pakai (terapan). Praktek seni kriya pada awalnya bertujuan untuk membuat barang-barang fungsional, baik ditujukan untuk kepentingan keagamaan (religius) atau kebutuhan praktis dalam kehidupan manusia seperti; perkakas rumah tangga. Contohnya dapat kita saksikan pada dari artefak-artefak berupa kapak dan perkakas pada jaman batu serta peninggalan-peninggalan dari bahan perunggu pada jaman logam berupa; nekara, moko, candrasa, kapak, bejana, hingga perhiasan seperti; gelang, kalung, cincin. Benda-benda tersebut dipakai sebagai perhiasan, prosesi upacara ritual adat (suku) serta kegiatan ritual yang bersifat kepercayaan seperti; penghormatan terhadap arwah nenek moyang.

Masuknya agama Hindu dan Budha memberikan perubahan tidak saja dalam hal kepercayaan, tetapi juga pada sistem sosial dalam masyarakat. Struktur pemerintahan kerajaan dan sistem kasta menimbulkan tingkatan status sosial dalam masyarakat. Masuknya pengaruh Hindu–Budha di Indonesia terjadi akibat asimilasi serta adaptasi kebudayaan Hindu-Budha India yang dibawa oleh para pedagang dan pendeta Hindu-Budha dari India dengan kebudayaan prasejarah di Indonesia. Kedua sistem keagamaan ini mengalami akulturasi dengan kepercayaan yang sudah ada sebelumnya di Indonesia yaitu pengkultusan terhadap arwah nenek moyang, dan kepercayaan terhadap spirit yang ada di alam sekitar. Kemudian kerap tumpang tindih dan bahkan terpadu ke dalam pemujaan-pemujaan sinkretisme Hindu-Budha Indonesia. (Claire Holt diterjemahkan oleh RM. Soedarsono, 2000)

Tumbuh dan berkembangnya kebudayan Hindu-Budha di Indonesia kemudian melahirkan kesenian berupa  seni ukir dengan beraneka ragam hias, dan patung perwujudan dewa-dewa. Dalam sistem sosial kemudian lahir sistem pemerintahan kerajaan yang berdasarkan kepada kepercayaan Hindu seperti kerajaan Sriwijaya di Sumatra, kerajaan Kutai di Kalimantan, kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat, Mataram Kuno Jawa Tengah. Hingga kerajaan Majapahit di Jawa Timur dengan maha patih Gajah Mada yang tersohor, yang kemudian membawa pengaruh Hindu ke Bali. Seni ukir tradisional masih diwarisi hingga saat ini.

Peran seni kriyapun menjadi semakin berkembang tidak saja sebagai komponen dalam hal kepercayaan/agama, namun juga menjadi konsumsi golongan elit bangsawan yaitu sebagai penanda status kebangsawanan. Kondisi tersebut menjadikan kriya sebagai seni yang bersifat elitis karena menduduki posisi terhormat pada masanya, berbeda dengan kerajinan yang cenderung tumbuh pada kalangan masyarakat biasa atau golongan rendah.

Akan tetapi keadaannya berbeda pada masa modern, dimana tingkatan sosial seperti pada masa kerajaan yang disebut “kasta” sudah tidak lagi eksis. Kalaupun ada tingkatan sosial kini tidak lagi berdasarkan “kasta” atau kebangsawanan yang dimiliki oleh seseorang, akan tetapi kemapanan ekonomi kini menjadi penanda bagi status seseorang. Artinya tarap ekonomi yang dimiliki seseorang dapat membedakan posisi mereka dari orang lain, secara sederhana kekuasan sekarang ditentukan oleh kemampuan ekonomi yang dimiliki seseorang. Dalam sistem masyarakat modern kondisinya telah berubah kaum elit yang dulunya ditempati oleh kaum bangsawan (ningrat), sekarang digantikan kalangan konglomerat (pemilik modal). Kondisi ini membawa dampak bagi pada posisi kriya, karena kini kriya mulai kehilangan struktur sosial yang menopang eksistensinya seperti pada masa lalu.

Situasi ini menjadikan kriya tidak lagi menjadi seni yang spesial karena posisi terhormatnya di masa lalu kini sudah terancam tidak eksis lagi, kriya kini menjadi sebuah artefak warisan masa lalu. Terlebih lagi dalam industri budaya seperti sekarang kedudukan kriya kini tidak lebih sebagai obyek pasar, yang diproduksi secara masal dan diperjualbelikan demi kepentingan ekonomi. Kriya kini mengalami desakralisasi dari posisi yang terhormat di masa lalu, yang adiluhung merupakan artefak yang tetap dihormati namun sekaligus juga direduksi dan diproduksi secara terus-menerus.

Kehadiran kriya pada jenjang pendidikan adalah sebuah upaya mengangkat kriya dari hanya sebagai artefak, untuk menjadikannya sebagai seni yang masih bisa eksis dan terhormat sekaligus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman. Inilah tugas berat insan kriya kini. Dalam perkembangan selanjutnya sejalan dengan perkembangan jaman, konsep kriyapun terus berkembang. Perubahan senantiasa menyertai setiap gerak laju perkembangan zaman, praktek seni kriya yang pada awalnya sarat dengan nilai fungsional, kini dalam prakteknya khususnya di akademis seni kriya mengalami pergeseran orientasi penciptaan. Kriya kini menjelma menjadi hanya pajangan semata dengan kata lain semata-mata seni untuk seni. Pergerakan ini kemudian melahirkan kategori-kategori dalam tubuh kriya, kategori tersebut antara lain kriya seni, dan desain kriya.

Sumber :

http://yogaparta.wordpress.com/2009/06/14/pengertian-seni-kriya/

Metode Penciptaan Seni Kriya

3 Votes
I Wayan Seriyoga Parta (Dosen Seni Kriya UNG)

Secara Metodelogis (ilmiah)  terdapat tiga tahapan yaitu: tahap eksplorasi, tahap perancangan, dan tahap perwujudan. (Metode ini disusun berdasarkan pada Prof. SP. Gustami)

-  Tahap Eksplorasi yaitu aktivitas penjelajahan menggali sumber ide, pengumpulan data & referensi, pengolahan dan analisa data, hasil dari penjelahan atau analisis data dijadikan dasar untuk membuat rancangan atau desain.

-  Tahap Perancangan yaitu memvisualisasikan hasil dari penjelajahan atau analisa data kedalam berbagai alternatif desain (sketsa), untuk kemudian ditentukan rancanagn/sketsa terpilih, untuk dijadikan acuan dalam pembuatan rancanagan final atau gambar teknik, dan racangan final ini (proyeksi, potongan, detail, perspektif) dijadikan acuan dalam proses perwujudan karya.

- Tahap perwujudan yaitu mewujudan rancangan terpilih/final menjadi model prototipe sampai ditemukan kesempurnaan karya sesuai dengan desain/ide, model ini bisa dalam bentuk miniatur atau kedalam karya yang sebenarnya, jika hasil tersebut dianggap telah sempurna maka diteruskan dengan pembuatan karya yang sesungguhnya (diproduksi), proses seperti ini biasanya dilalui terutama dalam pembuatan karya-karya fungsional.

Terdapat perbedaan antara penciptaan seni kriya murni dengan kriya fungsionsl, sebab penciptaan seni kriya sebagi ekspresi pribadi sejak awal belum diketahui hasil akhir yang hendak dicapai secara pasti (masih terjadi ekplorasi, inovasi dan improvisasi dalam proses perwujudan),  sedang seni kriya fungsional/layanan publik, sejak awal telah diketahui hasil yang hendak dicapai berdasarkan desain atau gambar teknik yang lengkap.

Ketiga tahap di atas dapat diuraikan menjadi enam langkah yaitu:

    1. Langkah pengembaraan jiwa, pengamatan lapangan, dan penggalian sumber referensi & informasi, untuk menemukan tema atau berbagai persoalan yang memerlukan pemecahan.
    2. Penggalian landasan teori, sumber dan referensi serta acuan visual. Usaha ini untuk memperoleh data material, alat, teknik, konstruksi, bentuk dan unsur estetis, aspek filosofi dan fungsi sosial kultural serta estimasi keunggulan pemecahan masalah yang ditawarkan.
    3. Perancanagn untuk menuangkan ide atau gagasan dari deskripsi verbal hasil analisis ke dalam bentuk visual dalam batas rancanagn dua dimensional. Hal yang menjadi pertimbangan dalam tahap ini meliputi aspek material, teknik, proses, metode, konstruksi, ergonomi, keamanan, kenyamanan, keselarasan, keseimbangan, bentuk, unsusr estetis, gaya, filosofi, pesan makna, nilai ekonomi serta peluang pasar ke depan.
    4. Realisasi rancangan atau desain terpilih menjadi model prototipe. Model prototipe dibangun berdasarkan gambar teknik yang telah disiapkan.
    5. Perwujudan realisasi rancangan/prototipe kadalam karya nyata sampai finishing dan kemasan.
    6. Melakukan evaluasi terhadap hasil dari perwujudan. Hal ini bisa dilakukan dalam bentuk pameran/response dari masyarakat, dengan maksud untuk mengkritisi pencapaian kualitas karya, menyangkut segi fisik dan non-fisik, untuk karya fungsionsl jika berbagai pertimbangan/kreteria telah terpenuhi maka karya tersebut siap diproduksi.. beda dengan karya kriya sebagai ungkapan pribadi/murni, yang kekuatannya terletak pada kesuksesan mengemas segi spirit, ruh, dan jiwa keseniannya, termasuk penuangan wujud fisik, makna, dan pesan sosial kultural yang dikandungnya..

Sumber :

http://yogaparta.wordpress.com/2009/06/14/metode-penciptaan-seni-kriya/

Peralatan dan Bahan Pembuatan Kriya Kayu

12 Votes
oleh: I Wayan Seriyoga Parta S.Sn dan I Wayan Sudana M.Sn

Persiapan Peralatan :

1. Pahat sebagai peralatan pokok terdiri beberapa jenis yaitu:

(a) Pahat Kuku, pahat ini berjumlah sekitar 20 batang dengan berbagai  ukuran, pahat ini digunakan untuk memahat bagian-bagian yang melengkung.

(b) Pahat lurus (Pengancap) berjumlah sekitar 10 batang dengan berbagai ukuran, pahat ini digunakan untuk memahat bagian yang lurus.

(c) pahat Col/penatar berjumlah 4 batang, digunakan untuk meratakan bagian dasar ukiran yang mencorok kedalam yang tidak dapat dijangkau oleh pahat lurus.

(d) Pahat setengah lingkaran berjumlah 3 batang berbagai ukuran, digunakan untuk memahat bagian motif lengkung dan mencorok kedalam yang tidak dapat dijangkau oleh pahat kuku.

(e) Pahat miring 2 batang, digunakan untuk meraut dan memahat pada bagian-bagian sudut.

2. Cara Perawatan Pahat Ukir

Perawatan pahat ukir kayu meliputi :

-Penggunaan yaitu pahat harus digunakan sesuai dengan fungsinya, misalnya pahat kuku harus digunakan untuk memahat bagian yang lengkung, cembung, cekung. Pahat lurus harus digunakan untuk memahat bagian yang lurus, demikian juga fungsi pahat yang lainnya. Penggunaan pahat yang tidak sesuai dengan fungsinya akan merusak mata pahat.

- Cara Mengasah yaitu agar dalam mengasah mata pahat tidak berubah dan pahat menjadi lebih tajam, oleh karena itu masing-masing pahat ada cara tersendiri dalam mengasah, misalnya pahat kuku diasah pada sisi sudut batu asah, dan dimulai dari pahat yang paling kecil sampai pada pahat yang paling besar. Pahat lurus diasah pada permukaan batu asah yang datar dimulai dari pahat yang paling besar sampai pahat yang paling kecil.Pahat miring diasah pada permukaan batu asah yang datar menuju ke sudut, diputar-putar pada permukaan batu asah. Pahat segitiga diasah hanya pada bagian luar saja agar bentuk mata pahat tidak berubah. Pahat col diasah pada permukaan batu asah yang datar bergantian bagian bawah dan atas. Dan pahat cengkrong diasah dengan cara sama seperti pahat kuku.

- Kebersihan Pahat. Sebelum dan sesudah pemakaian pahat harus dibersihkan dari kotoran dan debu agar pahat tidak mudah tumpul. Penyimpanan pahat harus dipisahkan berdasarkan jenisnya agar mata pahat tidak menyentuh pahat lain, dan untuk menjaga agar pahat tidak berkarat sesekali harus diminyaki dengan minyak kelapa atau minyak pelumas lainnya.

b. Peralatan Penunjang

(a) Palu kayu : kayu yang baik untuk bahan palu adalah kayu-kayu yang berat seperti kayu asam, kayu jambu, dan kayu cemara, diusahakan dari serat kayu terpilin agar tidak mudah pecah.batu asah.

(b) Sikat ijuk : digunakan untuk membersihkan ukiran dari kotoran bekas pahatan dan menghilangkan debu yang melekat pada ukiran.

(c) Alat-alat gambar : digunakan untuk membuat desain baik desain pokok maupun desain motif, jenis peralatan tersebut adalah pensil, spidol, penggaris, karet penghapus, jangka, routring, dan lain-lain.

(d) Alat-alat pertukangan seperti gergaji, schaap, meteran, kapak, siku-siku, dan lain-lain.

(e) Batu asah : untuk menajamkan peralatan baik pahat atau paralatan lainnya. Batu asah ada dua jenis yaitu batu asah kasar untuk memperbaiki mata pahat yang rusak mempercepat pengasahan, dan batu asah halus, untuk menyempurnakan ketajaman pahat.

3. Bahan

Pemahaman tentang kayu adalah penting, karena hal ini akan memberikaan wawasan kepada mahasiswa jenis kayu yang baik dalam pembuatan karya seni kriya. Di dalam pengenalan bahan kayu ini menyangkut masalah struktur kayu, ini penting diketahui adalah untuk menentukan bagian kayu yang mana yang baik untuk pembuatan karya dan bagian-bagian kayu yang mana saja yang tidak baik dalam pengerjaan karya ukir maupun karya kriya. Pembahasan mengenai materi tentang kayu itu telah dibahas secara mendalam pada MK. Pengetahuan Bahan kriya.

Bahan yang perlu dipersiapkan adalah:

(a) Kayu Sebagai Bahan Pokok : Jenis kayu yang baik diukir antara lain; kayu jati, cempaka, aghatis, mahoni, suar, nangka, sonokeling, sonokembang, kepelan dan sejenisnya. Untuk mengetahui kualitas suatu jenis kayu perlu dipelajari pengetahuan tentang kayu yang menyangkut sifat-sifat kayu, bagian-bagian kayu, faktor perusak kayu, keawetan kayu dan lain-lain. Hal ini tidak mungkin saya jelaskan secara detail dalam pelatihan ini karena keterbatasan waktu dan padatnya materi.

(b)  Bahan Penunjang yaitu; bahan-bahan untuk finishing : cat, politur, tinner, amplas, clear, dan lain-lain.

Sumber :

http://yogaparta.wordpress.com/2009/06/14/peralatan-dan-bahan-pembuatan-kriya-kayu/

Proses Kerja Kriya Kayu

2 Votes

oleh: I Wayan Seriyoga Parta S.Sn dan I Wayan Sudana M.Sn

  1. Pembuatan Disain

Langkah awal dalam pembuatan ukiran adalah membuat gambar atau desain benda yang akan diukir, dalam hal ini ada dua cara yang dapat dilakukan yaitu membuat gambar/desain pada kertas dan mendesain langsung pada kayu yang akan diukir, tapi sebagai pemula diusahakan membuat desain pada kertas dengan motif-motif sederhana seperti motif geometris atau motif-motif primitif sehingga mudah dipahat dan cepat selesai (tidak membosankan)

  1. Proses Kerja:

(a) Memindahkan disain ke media kayu : tempelkan desain pada kayu yang akan diukir dengan lem dan tunggu sampai kering.

(b)   Memahat bentuk-bentuk global : awali pekerjaan dengan memahat pola motif-motif secara secara global agar tidak mudah patah dan untuk memunculkan bentuk-bentuk secara garis besar.

(c)    Memahat detail : Lanjutkan dengan pemahatan moti-motif secara rinci sesuai dengan desain, agar kelihatan lebih jelas dan detail.

(d)   Menghaluskan : motif-motif yang telah dipahat secara rinci dihaluskan dan diberikan aksen-aksen tertentu seperti tekstur dan cawean sehingga ukiran kelihatan lebih indah.

(e)    Finishing : kegiatan ini diawali dengan menggosok ukiran dengan kertas pasir No 150, kemudian diberikan cat dasar untuk menutupi pori-pori kayu, selanjutnya detrepkan warna sesuai dengan keinginan, kemudian diterapkan seanding sealer setelah kering digosok dengan amplas No 400/500, dan terakhir diterapkan pelapis clear (gloss, semi gloss, atau dorp)

(f)     Penyajian karya : hal yang berkaitan dengan penyajian karya yaitu apakah karya yang dibuat ditampilkan menggantung, berdiri, atau memerlukan kemasan khusus, keseriusan dalam menyajikan karya juga akan menambah keindahan karya.

Kegiatan di atas harus dilalui tahap demi tahap guna memperoleh hasil yang maksimal, baik hasil nyata berupa karya atau benda-benda kriya maupun hasil berupa keahlian yang lebih mendalam dan profesional.

Sumber :

http://yogaparta.wordpress.com/2009/06/14/proses-kerja-kriya-kayu/

Menggambar Alam Benda

Istilah dalarn bahasa Inggris untuk alam benda adalah ‘still life’. Kata ini mengandung makna tentang menggambar secara langsung suatu benda diam yang sengaja disusun untuk keperluan itu. Kegiatan menggambar alam benda sebagai subyek utama diketahui mulai sejak abad XIV. Sebelum itu gambar alam benda hanya sebagai pendukung dari sebuah tema utama lukisan. Ada beberapa kemampuan yang harus dikuasai dalam menggambar alam benda yaitu :

a. Memilih dan menyusun benda yang akan digambar serta menentukan sudut pandang yang baik.

b. Mentransformasikan bentuk tiga dimensi ke atas bidang dua dimensi dengan garis dan unsur lainnya.

c. Menjadikan ilusi tiga dimensi terhadap benda yang digambar dengan menerapkan prinsip perspektif, memberikan warna dan gelap terang.

d. Mentransformasikan karakter benda yang digambar misalnya karakter benda keras, lunak, liat, dan pejal.

Apabila keempat syarat minimal ini dikuasai, niscaya menggambar alam benda dapat berhasil. Sebelum praktek, ada baiknya memperhatikan gambar di bawah ini. Lihatlah bagaimana teknik dan bahan yang digunakan, bentuk-bentuk benda yang digambar, gelap terang dan karakter bendanya. Masalah pertama yang menjadi pertimbangan untuk menggambar alam benda adalah tentang jenis benda apa yang ingin digambar, karena pemilihan terhadap obyek yang digambar itu menentukan keberhasilannya. Ada dua macam obyek dalam menggambar alam benda, yakni obyek buatan manusia dan obyek alami. Obyek tidak perlu yang muluk-muluk, benda sederhanapun dapat menjadi obyek dan menghasilkan gambar yang baik. Hal ini tergantung dari bagaimana kita dapat mengenali keindahan dari benda itu untuk diungkapkan secara visual. Selain itu penyusunan terhadap obyek perlu mendapat perhatian pula, tidak perlu. susunan yang penuh dengan kerumitan.

Susunan yang baik unsur yang sederhana tetapi dapat menarik perhatian. Lihatlah contoh gambar atau lukisan alam benda yang dibuat oleh Van Gogh pada gambar (231). Sebuah kursi tua dapat dijadikan obyek yang menarik dan menghasilkan karya yang berkualitas tinggi. Dalam karya ini Van Gogh berhasil mengungkapkan karakter kursi tersebut dengan teknik yang memiliki ciri khas tersendiri. Oleh sebab itu para siswa diharapkan berlatih terus sehingga menguasai berbagai teknik menggambar yang kemudian dapat mengembangkan ciri khasnya masing-masing.

Dalam mentransformasikan wujud tiga dimensional menjadi gambar dua dimensional pengetahuan dan keterampilan tentang perspektif sangat membantu untuk menciptakan ilusi keruangan. Selain itu, kemampuan membuat skala dari ukuran sebenarnya menjadi lebih kecil atau lebih besar adalah hal penting. Biasanya menggambar alam benda jarang menerapkan ukuran yang lebih besar dari obyek aslinya, paling besar sama dengan ukuran sebenarnya (life size). Menggambar alam benda yang ukurannya lebih kecil dan disesuaikan dengan ukuran kertas, pengukuran skalanya dapat dilakukan dengan teknik yang sangat sederhana tetapi efektif. Dengan hanya menggunakan batang pensil, tangan direntangkan lurus ke depan dan pensil dipegang tegak lurus diarahkan kepada benda yang digambar, mata dipicingkan lalu ibu jari digunakan untuk menandai ukuran benda yang digambar pada batang pensil itu kemudian digunakan sebagai skala gambar pada kertas gambar.

Dalam pemberian warna dan gelap terang diperlukan ketajaman penglihatan. Seperti halnya mengukur obyek, untuk memberi kesan gelap terang pandangan mata kita harus difokuskan pula dengan memicingkan- Dalam pemberian warna dan gelap terang diperlukan ketajaman penglihatan. Seperti halnya mengukur obyek, untuk memberi gelap terang pandangan mata kita harus difokuskan pula dengan memicingkan nya. Dengan demikian kontras gelap terang semakin jelas terlihat, sehingga memudahkan dalam pemberian tone gelap terang dan warna pada gambar. Gelap terang bertujuan untuk membuat ilusi tiga dimensional terhadap gambar.

Oleh sebab itu, kemampuan teknik dalam konteks ini sangat menentukan keberhasilan sebuah gambar, selain pengaturan pencahayaan pada waktu menyusun benda yang hendak digambar. Selanjutnya, dalam memberi karakter terhadap gambar agar sesuai dengan benda aslinya, diperlukan kepekaan dan teknik pewamaan yang mantap. Hal ini akan dicapai jika melaksanakan latihan secara terus menerus untuk mempertajam penglihatan, memperhalus perasaan dan menguasai teknik penggunaan bahan.

Kegiatan menggambar alam benda dalam bidang seni rupa termasuk dasar bagi kegiatan berkarya seni rupa selanjutnya, sebab dalam kegiatannya latihan pengamatan terhadap ujud sebuah benda merupakan kegiatan untuk mencermati bentuk dan plastisitasnya.

a.Menggambar Alam Benda Hitam Putih dengan teknik ‘dry brush’

1. Susunlah dua buah botol be-ning dengan latar belakang gelap agar dapat memberi kontras yang tajam

2. Buatlah sketsa kedua botol dengan pensil dengan goresan tipis.

3. Berilah latar belakang dengan warna hitam, kemudian warna tersebut di gosok dengan kertas tisu atau kain yang lembut agar mendapatkan warna yang rata.

4. Kain atau tisu yang telah digu-nakan menggosok latar belakang tadi, gunakan untuk menggosok bentuk botol sehingga mendapatkan warna hitam tipis.


5. Gunakan karet penghapus yang telah diruncingkan untuk mendapatkan ’highlight’ pada botol.

6. Selanjutnya berikan sentuhan akhir dengan penekananpenekanan pada bagian gelap

di botol dengan arang/pastel.


ini sangat efektif untuk melatih perasaan dalam merasakan karakter permukaan setiap benda dan melatih untuk mengingat wujud sebuah benda. Benda yang digambar tidak berubah-ubah posisinya, dengan demikian pengamatan dapat dilakukan secara terus menerus terhadap struktur dan unsur benda tersebut, hal ini memberi kesempatan untuk pencerapan oleh persepsi terhadap kualitas benda yang diamati, yaitu warna, tekstur, plastisitas yang diakibatkan oleh lekak-lekuk benda serta gelap terang yang diakibatkan oleh cahaya yang menerpa benda.

Tugas Latihan.

Ini adalah latihan lanjutan setelah melakukan latihan membuat perspektif dan sketsa, latihan ini penting dilakukan untuk meningkatkan keterampilan dalam memberi kemantapan dalam membuat ilusi tiga dimensional dengan gelap terang dan pewarnaan serta mengasah kepekaan rasa dan ketajaman penglihatan.

1. Ambilah dua buah benda, susunlah benda tersebut dalam komposisi yang sedap dipandang

2. Buatlah sket kedua benda tersebut di atas kertas gambar

3. Berilah arsiran tipis pada bagian-bagian benda yang gelap

4. Secara perlahan, tebalkan bagian yang gelap tersebut

5. Gunakan bagian yang paling gelap untuk membandingkan tonasi gelap terang pada bagian yang lain

a.Menggambar Alam Benda dengan Warna

Menggambar alam benda dengan warna agak berbeda dengan menggambar alam benda hanya dengan hitam putih mengguakan pensil atau arang. Warna yang dapat digunakan ada banyak jenisnya, antara lain warna medium kering, seperti pensil berwarna, pastel, dan krayon; ada pula warna dengan medium basah seperti cat air, cat poster, cat akrilik, dan cat minyak. Semua bahan ini memiliki sifat yang berbedabeda seperti yang telah diuraikan dalam bab III. Oleh karena memiliki sifat yang berbeda, maka menggambar alam benda dengan warna perlu penguasaan yang berbeda pula. Contoh berikut adalah menggunakan cat akrilik. Akrilik memiliki sifat warna cerah, oleh kaena itu cocok untuk menggambarkan benda-benda dengan warna yang intensitasnya tinggi.

Jeruk memiliki warna kuning, aple warna merah dan hijau. Dalam contoh latihan berikut adalah menggambar alam benda aple, dan jeruk yang memiliki warna cerah dan komposisi sederhana. Potensi akrilik mirip cat minyak tetapi cepat kering. Oleh karenanya kuas yang digunakan harus sering dimasukkan ke dalam air agar tidak rusak. Oleh karena cepat kering kecenderungan penggunaannya menggunakan teknik brush stroke dengan sapuan-sapuan kuas yang lugas. Oleh karenanya teknik ini sulit untuk digunakan melukis realis dengan permukaan halus, hasil gambar lebih bersifat ekspresif dengan tarikan kuas yang kuat. Warna diterapkan secara berulang tumpang tindih sehingga warna menjadi tebal. Untuk itu perhatikan contoh langkah-langkah menggambar alam benda dengan warna akrilik (gb.235) dan warna cat air (gb.236). Perhatikan cara mewarnanya, pemberian gelap terang untuk mendapatkan ilusi tiga dimensional. Selanjutnya lakukan latihan mandiri dengan mengacu kepada tahapan contoh gambar tersebut.

sumber : http://gurumuda.com/bse/menggambar-alam-benda-2#more-21905

SURYAHADI, A. Agung, 2008, Seni Rupa Menjadi Sensitif, Kreatif, Apresiatif dan Produktif Jilid 2 untuk SMK, Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, hal 302 – 311.

Menggambar Manusia

Menggambar manusia memerlukan keterampilan dan ketekunan yang lebih dibanding menggambar obyek lainnya. Hal ini disebabkan karena bentuk tubuh manusia memiliki anatomi tubuh dan plastisitas yang kompleks dan sekaligus indah. Untuk dapat menguasainya dibutuhkan pengetahuan tentang anatomi plastis tubuh manusia, yaitu tentang fenomena permukaan bentuk tubuh manusia.

Untuk dapat menggambarkan manusia dengan baik kita harus mengetahui apa yang ada dibalik kulit manusia utamanya unsur pembentuknya yaitu tulang dan otot, ketika tulang dan otot bergerak bentuk permukaan tubuh berubah, sehingga orang yang diam anatomi plastisnya berbeda dengan orang dalam keadaan bergerak. Hal ini tentu sangat penting untuk diketahui oleh seniman seni rupa yang ingin memperdalam seni ilustrasi grafis seni lukis realis yang banyak memerlukan gambar manusia.

Anatomi tubuh manusia memang rumit, namun demikian, untuk memudahkan memahami dan menggambarnya perlu diketahui terlebih dahulu bentuk dasarnya. Bahwa bentuk dasar tubuh manusia jika dikembalikan ke bentuk esensinya dapat menjadi rangkaian bentuk silinder bervolume serta terbentuk oleh otot-otot utama sebagai gambar (249). Agar lebih memahaminya diperlukan latihan mandiri secara terus menerus, oleh karena itu diperlukan buku sketsa yang dapat dibawa setiap saat kemana-mana. Menggambar anatomi tidak harus selalu utuh seluruh tubuh, dapat dilakukan dengan menggambar setiap bagian tubuh, seperti bagian kepala dari segala arah, bagian tangan dengan berbagai gerakan begitu pula bagian kaki. Dalam setiap kesempatan gunakan kesempatan untuk membuat sketsa agar dapat menguasai bentuk-bentuk manusia secara baik.

Sebagai yang dijelaskan sebelumnya, bahwa tinggi tubuh manusia dewasa normal tingginya 7, 5 – 8 tinggi kepalanya, namun menjadi berbeda pada tinggi tubuh remaja, anak dan bayi. Selain ukuran tinggi tubuh, adapula ciri khusus pada bentuk tubuh wanita maupun laki-laki. Hal yang paling menonjol pada perbedaan tubuh wanita dan laki-laki, wanita pinggulnya lebih lebar dibanding bahunya sedang laki-laki sebaliknya. Garis tepi tubuh wanita lebih lembut dibanding laki-laki terutama garis tepi pada bagian dahi, alis dan rambut serta bagian bawah terdiri dari hidung, mulut, telinga dan dagu. Jika dibagi dua secara tegak lurus, bagian kiri dan kanan adalah simetris (gb. 189)

Bagian badan biasanya disebut torso, yang terbentuk oleh tiga bagian, yaitu bagian dada, bagian perut dan pinggul. Bagian badan sangat lentur karena disangga oleh tulang belakang yang dapat digerakkan melengkung ke depan, ke belakang, ke samping dan berputar. Anggota badan manusia terdiri dari tangan dan kaki . Tangan dibentuk oleh tiga bagian, yaitu lengan atas, lengan bawah dan telapak tangan, sedangkan kaki terdiri dari paha, betis dan telapak kaki.

Seluruh bagian tubuh manusia memiliki karakter bentuknya masing-masing dan setiap bentuk memiliki kerumitan dalam menggambarnya.

Diperlukan pengetahuan tentang anatomi plastis tubuh manusia. Hal ini sangat penting diketahui oleh siswa dalam kaitannya dengan menggambar manusia secara realistik. Pengetahuan tentang anatomi plastis akan memudahkan dalam memahami bentuk manusia secara keseluruhan. Dengan anatomi diketahui susunan tulang sebagai kerangka bangun tubuh manusia karena tulang itu adalah tempat melekatnya otot dan daging sehingga bentuknya mempengaruhi panampakan permukaan tubuh.

Tugas latihan

Agar lebih dapat mengetabui bagaimana uniknya bentuk tubuh manusia perhatikanlah tubuhmu sendiri dalam cermin. Lihat tiaptiap bagiannya, sambil duduk coba menggambar bagian-bagian itu secara terpisah kepala, badan, tangan dan kaki. Gunakan contoh di atas sebagai acuan. Mulailah dari posisi yang paling mudah misalnya kepala dari depan, badan dari depan. Teruskan dengan variasi berbagai posisi.

Sumber :

http://gurumuda.com/bse/menggambar-manusia-2#more-21946

SURYAHADI, A. Agung, 2008, Seni Rupa Menjadi Sensitif, Kreatif, Apresiatif dan Produktif Jilid 2 untuk SMK, Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, h. 321 – 326.