Kemanakah anak-anak pecinta seni rupa?

Oleh : Asep Sudrajat, S.Pd

Mencermati peristiwa yang baru saja kulampaui bersama teman-teman guru dan pengawas seni, terbersit satu kekecewaan , bagaimana tidak, dari seluruh rangkaian acara lomba yang terdiri dari :
1. Lomba Solo Vokal
2. Lomba Vokal group
3. Lomba Kreasi Musik
4. Lomba Kreasi Tari
5. Lomba seni Kriya
6. Lomba cipta cerpen
7. Lomba Story telling
Hanya lomba seni kriya yang menarik perhatian, bisa dibayangkan dari 50 lebih kecamatan yang ada di kabupaten Garut, hanya ada 5 peserta saja. Sungguh suatu kondisi yang memprihatinkan. Salah siapa?

Tentu bukanlah hal yang bijaksana jika kita menilik dari segi kesalahan, tapi sungguh bijak jika kita ambil hikmah dari semua ini.

Dari perbincangan penulis dengan Pak Atim selaku pengawas bidang seni budaya SMP dinas Pendidikan Kab Garut, kita sepakat untuk melakukan action. “Not Talk but Action”

Dari obrolan yang mengalir muncul ide dari dalam batinku untuk mengelola kegiatan berkearjinan yang merupakan salah satu bagian dari seni rupa yang menjadi salah satu bagian hidupku. Oh ya… saat ini penulis aktif mengajar seni dan menjadi pelatih atau pembimbing seni khususnya seni lukis dan menggambar di kalangan anak-anak. Hal ini sudah penulis lalui sejak tahun 2003 yang ditandai dengan berdirinya sanggar lukis Permata yang penulis kelola secara mandiri.

Nampaknya ada suatu celah untuk memasukan cabang seni kriya ke dalam bidang garapanku, tentunya dengan dukungan dan partisipasi teman-teman yang kompeten di bidang ini sekalian menata sanggar yang selama ini penulis kelola secara mandiri.
Untuk mewujudkan hal ini tentu bukan perkara mudah, perlu ide, pemikiran dan tentunya SDM yang memadai.

Kembali ke persoalan awal, pelaskanaan lomba secara umum berjalan lancer, ruang lomba seni kryiya nampak sepi,sepi peserta, sepi pengunjung, kami juri sangat leluasa mengamati seluruh aktivitas dan gerak-gerik peserta, bahkan di sela-sela pekerjaan peserta kamipun melakukan interview seputar karya yang mereka buat, ada bebrapa yang berangkat dengan kepercayaan diri tinggi, da pula yang nampaknya ikut karena dorongan guru atau sekolah, bahkan saat ditanya mengenai ide awal penciptaan karya ada satu dua peserta yang menjawab polos bahwa idenya dating dari gurunya, tapi ada yang denga tegas menyetakan bahwa idenya dating ari dirinya sendiri, nampaknya usaha kami mengorek kealian ide berhasil, so pati yang kita perhitungkan adalah siswa yang bekerja dengan ide sendiri, karena itu penting, seni bukan hanya rutinitas, seni bukan instruksi tapi seni memiliki esensi lain yang begitu mahal harganya “ide”

Dari pengamata kami terhadap seluruh peserta, kami memiliki ketertarikan yang sama pada salah satu peserta yang membuat karya dengan bahan alam atau lebih tepatnya limbah alam

Ilham namanya, ia pelajar yang mewakili SMP Negeri 1 Kersamanah

Bahan utama yang digunakan adalah :
1. Sabut kelapa
2. Pelepah pisng yang sudah kering
3. serbuk kayu hsil gergaji
Bahan penunjangnya adalah
1. Lem Kayu
2. Manik-manik

Alat yang digunakan adalah
1. Pisau cutter
2. Gunting

Objek yang menjadi pilihannya adalah objek burung merak
Mata kami banyak tertuju pada kegiatan pembuatan burung merak ini, langkah demi langkah kami ikuti, mulai dari penyiapan alat dan bahan, penempelan potongan-potongan lembaran pelepah pisang yang sudah dibentuk sedemikian rupa pada bagian-bagian tubuh burung yang sudah dibentuk sebelumnya,

berlanjut sampai akhirnya …… kring. Tanda waktu habis tiba, Peserta harus berhenti mengerjakan tugasnya sesuai aturan yang sudah ditetapkan 6 jam.

Alhasil karya yang dibuatpun dikumpulkan.
Maka saatnya panitia menilai seluruh karya yang sudah diselesaikan oleh peserta.
Peserta ke luar, istirahat.
Juri mulai sibuk, mengamati secara teliti, setiap aspek yang dinilai agar diperoleh hasil yang memuaskan.
Akhirnya juri harus mengambil keputusan.
Maka berdasarkan criteria nilai yang sudah ditetapkan yang terdiri dari :
1. Tema Lomba
Tema lomba adalah “Selamatkan Bumi-Ku”

2. Ketentuan Khusus
a. Lomba seni Kriya berbentuk cenderamata (souvenir) yang menggambarkan kekayaan alam dan budaya daerah setempat (Garut/Jawa Barat)
b. Lomba dilaksanakan secara langsung dengan wakktu selama 6 jam ( 6 X 60 menit)

3. Ketentuan teknis
a. Peserta dibebaskan dalam memilih bahan yang akan digunakan untuk pembuatan cenderamata
b. Bahan yang digunakan mudah didapat di alam sekitar
c. Peralatan, bahan dan perlengkapan lain dibawa oleh peserta sesuai dengan kebutuhan masing-masing
d. Karya cenderamata harus mudah dibawa dan dikemas

4. Aspek yang dinilai
a. Kreativitas dalam pengungkapan ide atau gagasan
b. Kemampuan daya estetika (kreativitas teknik dan pemanfaatan bahan, komposisi bentuk, dan lain-lain)
c. Keunikan dan kekhasan daerah
d. Keaslian karya
Maka diputuskan sebagai berikut :
Juara 1 Ilham Nugraha (SMPN 1 Kersamanah)
Juara II Yunita dwi Cahyani ( SMPN 1 Malangbong)
Juara III Dwi Nurhayati (SMPN 1 Tarogong Kidul)

Berikut adalah hasil karya peserta lomba

Burung Merak
Karya Ilham Nugraha (SMPN 1 Kersamanah)

Mainan Bayi
Karya Yunita dwi Cahyani ( SMPN 1 Malangbong)

Tempat Pensil dari tempurung kelapa
Karya Dwi Nurhayati (SMPN 1 Tarogong Kidul)
Selamat kepada ilham, tapi pesan dari kami; jangan puas dulu, masih harus banyak belajar demi sukses yang lebih tinggi. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s